Showing posts with label motor. Show all posts
Showing posts with label motor. Show all posts

Friday, 23 December 2011

Subtitusi Kampas Rem Supra X125 Buat Satria F 150, Gak Ada Bedanya!

Ternyata kampas rem belakang Supra X125 model cakram sama dengan punya Suzuki Satria F 150. Seperti pengalaman Rio Purnomo, warga Joglo, Jakarta Barat. Dia pasang punya Supra X125 di bebek Hyperunderbone itu.

Rio punya alasan kuat, ketika melacak komponen bebek Suzuki itu susah ditemui. Kebetulan ada bengkel yang menawari punya bebek Honda 125 cc. “Secara bentuk sama kok. Karena kepala babi atau atau kaliper bentuknya sama. Apalagi sama-sama satu piston dan satu merek,” jelas Hasan, mekanik Hasan Motor dari Jl. Kelapa Dua Raya No. 7, Jakarta Barat itu.

Selain bentuknya sama, material kampas rem belakang Satria dan Supra X125 sama kok. “Kualitasnya, bisa dicoba, sama-sama kuat,” jelas Hasan yang dulunya mekanik bengkel resmi Suzuki itu.

Tapi, walau bahan sama namun berbeda harga. Kalau punya Satria lebih mahal. Buat Satria Rp 60 ribu. Sedang punya Supra X125 hanya Rp 37 ribu. Bisa jadi lebih murah karena memang beda pabrikan.

Untuk pemasangan ulang, Hasan memberikan contoh di motor Fadil. Sebelum dibongkar, siapkan perkakas yang diperlukan. “Seperti kunci L 5, obeng min dan kunci ring 12,” ungkap Hasan yang spesialis Suzuki Satria F sejak dulu itu.

Pertama, lepaskan baut 12 pegangan knalpot pakai kunci ring. Lalu, buka baut L 5 pengancing kampas di kaliper. “Congkel kampas pakai obeng min agar mudah dilepas,” ucap mekanik yang suka balap ini.

Setelah itu, baru pasang yang baru deh. Jangan lupa pasang kembali baut-baut yang dilepas tadi yah.

sumber

Awas !!! Sekring Honda Vario, Posisinya di Depan Rawan Getar

Selain sekring Yamaha Nouvo-Z yang sering kendur akibat getaran, Honda Vario sama. Apalagi melihat posisi rumah sekring Vario yang berada di balik tebeng depan, jadi sangat mungkin tiba-tiba kendur.

“Kasusnya sih memang jarang terjadi. Tapi, dulu pernah memperbaiki sekring punya Vario yang hampir kendur dari rumahnya, terutama bagian penjepit kaki sekring (fitting). Nggak sampai mogok sih, tapi tetap waspada,” ujar Supriyono, mekanik Pandawa Motor.

Kata Supriyono, penyebab kendur mungkin karena rumah sering kena getaran itu. Apalagi rumah sekring yang terpasang dekat aki, posisinya ada di bagian depan. Tahu sendiri getarannya sangat kuat daripada di tengah,” ujar mekanik dari Jl. Bangka Raya, Pela Mampang, Jakarta Selatan itu.

Meski jarang terjadi, pria ramah itu ingin mengingatkan para pemilik Vario agar rajin memeriksa. Kecuali mau pakai sekring yang punya mobil.

Karena kakinya lebih tebal, sehingga lebih menancap kuat. Atau kalau perlu, ganti berikut rumah sekringnya. Pakai dari punya mobil. Seperti tips untuk Yamaha Nouvo-Z.

sumber

Saturday, 19 November 2011

Jangan Asal Ganti Leher Knalpot

Knalpot aftermarket diproduksi secara masal dan sesuai selera orang pada umumnya. Karena itu tak jarang model tersebut tidak sesuai keinginan salah satu konsumen hingga di modifikasi. Misalnya silencer kurang mendongkrak.

Karena kurang mendongkrak akhirnya leher knalpot diganti total. Setelah terpasang performa mesin justru turun dari sebelumnya. Drop jauh bahkan cenderung tidak bertenaga. Hal demikian karena ketika pembuatan leher pengganti tidak dipertimbangkan dimensinya.


Misalnya pembuatan leher tidak landai atau justru lekukan (sudut leher knalpot) terlalu curam. Ini menyebabkan back preasure berlebihan sehingga di putaran atas cenderung mengganggu performa mesin. Kuncinya memang dilekukan leher dan diameter pipa.


Artinya, sah saja mengganti leher knalpot supaya ujung silencer lebih mendongak mirip tipikal motor balap. Tapi ketentuan pembuatan leher juga wajib diperhatikan. Langkah paling mudah adalah mengikuti dimensi pipa sebelumnya. Leher knalpot dibuat dengan panjang, bentuk, dan diameter yang sama persis dengan knalpot aftermarket yang akan dipotong. Cuma dibagian belakang dibuat lebih ke atas untuk menghasilkan dimensi yang lebih ke atas.

Jika tidak ingin menggunakan dimensi knalpot aftermarket, minimal gunakan diameter pipa yang sama dengan diameter klep. Misalnya, Jupiter yang menganut klep buang 19 mm, jadi diameter minimal leher adalah 19 mm juga. Atau paling pas adalah di angka 22 mm. jika langkah mengetahui diameter klep buang agak susah cara lainnya adalah mengikuti bentuk porting. Gunakan angka lebih besar 1-2 mm.

Awas!!!! Karburator Jamuran

Awas !!! Ternyata tidak hanya kulit yang bisa jamuran tetapi karburator pun bisa jamuran. Hal ini telah terjadi pada karburator non orisinil yang pada bagian dalamnya terdapat bercak-bercak putih. Melihat hal ini kita tak boleh diam. Karburator mesti dibersihkan karena bila tidak takutnya bercak putih-putih yang menempel di karbu bisa membuat buntu lubang yang ada. Kinerja karbu dalam mensuplai bahan bakar dan udara akan terganggu.

Jamur bisa menutup lubang kecil-kecil dikarbu saat bensin mengenainya dan ikut luntur hingga terbawa bensin masuk ke dalam lubang-lubang kecil ini. Sedikit-sedikit bila dibiarkan akan menumpuk dan menutup lubang-lubang karbu hingga buntu.

Untuk itu dalam membeli karbu yang non orisinil alangkah baiknya bila dibuka lebih dahulu, pastikan tidak ada jamur atau kotoran. Bercak putih pada karburator terjadi karena pada paduan aluminiumnya ada terlalu banyak pemberian senyawa garam (natrium flourida dan atau fosfor chlorida) saat proses peleburannya. Karena terlalu banyak garam yang larut tidak sempurna, maka keluarlah bercak-bercak putih. Lebih parah bila flouridanya berlebih akan muncul bercak putih dan gelembung air (lembab). Intinya jangan asal beli karburator.

Cara membersihkan Jamur di Karburator :
Bersihkan dengan disemprot dulu pakai cairan pembersih seperti WD40. Setelah disemprot langsung bersihkan bercak putih-putih ini pakai kuas. Kalau masih tetap susah gunakan sikat kawat baja. Usahakan jamur sampai hilang. Untuk bagian lubang-lubang bisa disemburkan udara bertekanan. Tekanan udara ini diharapkan bisa mengusir jamur keluar dari lubang.

Thursday, 17 November 2011

Tes Karbu Vakum Vs Konvensional Mana Yang Lebih Irit?

Beda sistem, selisih 6 Km
Tidak sedikit anggapan kalau karburator vakum tentu lebih boros bahan bakar ketimbang karbu tipe konvensional. Itu karena bukaan skep di sistem pengabut bahan bakar itu berdasar kinerja pengisapan mesin. Jadi, bukan karena tarikan tali gas yang mengangkat botol skep.

Demi menjawab itu maka dilakukan sebuah tes. Uji coba dilakukan di Yamaha Mio. Skubek ini, tak hanya disukai wanita. Tapi, para penyuka akselerasi juga. Selain itu, buat pilihan karburator pengganti juga lebih banyak pilihannya.


Standarnya, Mio mengadopsi karbu Keihin NCV24. Dari kode part, terpantau jelas kalau karbu ini memiliki venturi 24 mm. Pilihan komponen aftermarket yang punya diameter sama, setidaknya ada dua pilihan. Yaitu, Mikuni TM24 mm dan juga Keihin PE24 mm.

Biar lebih spesifik, MOTOR Plus mengambil Keihin PE24 sebagai bahan tes. Karena dilihat dari banyaknya tunner atau penyuka adu kebut yang lebih banyak aplikasi karbu ini. Soal harga PE juga lebih murah ketimbang Mikuni. PE, dijual sekitar Rp 600 ribuan.

Memakai Yamaha Mio milik Kaper lansiran 2008, pertama kali dilakukan tes memakai karburator standar. Wadah bahan bakar, tidak lagi mengandalkan tangki bawaan motor.

Gantinya, Pertamax Plus 100 ml yang diisikan ke tabung infus yang slangnya dihubungkan ke karburator. Tapi sebelumnya, bensin yang tersisa di karburator dibuang lebih dulu. Main-jet dan pilot-jet, tetap standar. Yaitu, 110/ 38.

Spuyer standar bawaan(kiri). Pasang Keihin PE gak perlu ubahan(kanan)
Setelah siap, motor diajak berjalan. Kecepatan lebih banyak konstan bermain di angka 40-50 km/jam sesuai kondisi lalu lintas yang ramai lancar. Ternyata dari 100 ml yang dipakai, Mio mampu menempuh jarak 4 km. Jika diambil perbandingan, pakai karbu standar maka satu liter Pertamax Plus mampu membuat Mio berlari hingga 40 km.

Kini, giliran karbu konvensional. Main-jet dan pilot-jet, sesuai kondisi jual karbu di pasaran. Yaitu, 115/ 38. Dengan metode dan perlakuan yang sama, Mio kembali diajak berkeliling. Ini sesuai setingan permintaan mesin juga.

Kecepatan pun, tidak berubah. Konstan di 40–50 km/jam. Tapi, ini kali skubek Yamaha itu tidak mampu berjalan seperti ketika aplikasi karbu standar. Jarak 3,4 km merupakan jarak terjauh yang bisa dicapai ketika aplikasi Keihin PE24.

Jika dihitung-hitung lagi, untuk satu liter Pertamax Plus hanya mampu membuat Mio berjalan hingga 34 km. Jelas sudah perbandingannya. Keduanya, memiliki selisih 6 km. Pakai karburator vakum, memang sedikit lebih irit ketimbang pakai karbu konvensional.

Tapi selama jajal, akselerasi yang diberikan karbu konvensional terasa lebih responsif ketimbang standar. Grip gas dibuka spontan, pacuan lansung berlari! Biar lebih mantap dan terukur, next kita lakukan adu power dong.

sumber : motorplus-online.com


KTM Freeride 350, Motocross Ringan Buat Petualang

Sesuai namanya, KTM Freeride 350 memang dirancang khusus untuk para petualang alam bebas yang menginginkan motor ringan, namun bertenaga. Dengan bobot 99,5 kilogram, tenaga mesinnya mencapai 25 Dk.

KTM menyematkan mesin 4-tak berpendingin air, silinder tunggal bervolume 350 cc. Mesin DOHC yang dikawinkan dengan transmisi 6-speed tipe claw shifted.



Freeride 350 juga ditunjang dengan berbagai fitur ‘anti banting’ khas motocross. Sebut saja aplikasi sasis tipe perimeter steel-aluminium composite frame yang diklaim lebih kokoh dan ringan dibanding motor sejenis.

Perusahaan yang didirikan pada tahun 1934 dan bermarkas di Mattighofen, Austria ini mengandalkan suspensi WP untuk menaklukkan berbagai medan khususnya yang ekstrim sekalipun.Penggunaan suspensi depan WP tipe 4357 MXMA, serta monoshock dari WP tipe 4618 PDS DCC juga membawa kenyamanan dan performa lebih. Sebab kemampuan travel suspensi depan mencapai 250 mm, dan 280 mm pada sok belakang.
Sistem pengereman Freeride 350 dilengkapi dengan formula disc brake di ban depan-belakang. Pelek Freeride 350 mengaplikasi kombinasi 18 inci di belakang) dan 21 inci di depan dari Giant. Pelek berbahan alumunium tersebut dipadukan dengan tromol berteknologi CNC.

Sementara bodinya, Freeride 350 terlihat persis dengan versi elektriknya, yakni KTM Freeride E. Hal ini terlihat dari bentuk bodi dan tangki 5,5 liternya yang pipih. Semakin identik, livery putih dengan sasis dan decal oranye khas KTM juga tersemat pada versi listrik ini.

Teknik Mengerem Yang Benar

Ketika bikers sedang berkendara, apa sudah benar teknik pengeremannya? Disini saya akan dijelaskan tentang cara mengerem yang benar...


Ketika berniat mengerem, segera tutup putaran gas dan tarik tuas rem tangan dan injak pedal rem kaki secara bersamaan. Terus, daya tarik tuas rem 70 persen, sedangkan daya tekan kaki cukup 30 persen.

Saat menarik tuas rem tangan, pergunakan keempat jari dengan teknik meremas. Jangan menghentakkan semua jari secara bersamaan karena akan mengunci kanvas rem dan membuat motor tetap melaju meski ban berhenti. "Tekniknya mirip saat kita berjabat tangan, disesuaikan dengan seberapa cepat kita mau menghentikan motor," jelas Agung.

Jangan cuma mengandalkan dua jari saja karena, saat harus mengerem mendadak, tenaga empat jari jauh lebih bertenaga. "Jangan sepelekan kondisi, hal yang darurat bisa datang kapan saja. Jadi harus selalu siap," tambah Agung.

Sesaat sebelum motor berhenti, tarik tuas kopling (buat motor sport). Dan, waktu motor berhenti, segera turunkan kaki kiri dan menoleh ke arah kanan. "Kondisi berkendara Indonesia itu di sebelah kiri. Dengan menoleh, kita jadi sigap terhadap apa yang ada dari kanan (bisa mobil, motor, atau kendaraan lain).

Wednesday, 16 November 2011

Lansdowne Classic Series 2012


Sebuah club racing bernama Landsdowne akan memperkenalkan kelas baru pada musim 2012. Landsdowne terkenal dengan balapan motor klasiknya salah satu serinya yaitu Bonham British Historic Grand Prix Championship. Mirip seperti BSB, WSB dan Moto GP tapi semua rider memakai motor dibawah tahun 1964 dan memakai ban yang sama yaitu Avon ring 19model racing.

Lansdowne Cup ini dikenal sebagai WRR Lansdowne Cup untuk mengenang pendiri museum motor nasional Roy Richards dan didukung 4 sponsor dari Bonhams, Classic Motorcycle Magazine dan ban Avon. Balapan ini dgelar dibeberapa sirkuit yaitu di Qulton Park, Thruxton, Brand Hartch GP, Pembrey, Snetterton dan Cadwell Park.

New MV Agusta Brutale 675

Inilah rival terbaru dari Triumph Street Triple, merk legendaries MV Agusta mengeluarkan tipe Brutale 675. Bentuk street fighter futuristic sportmenjadi daya tarik brutale. Mesin mirip F3 inline 3 silinder berkapasitas 675 cc yang mampu menghasilkan tenaga sampai 115 bhp dalam kisaran 12500 rpm.


Dipasarkan di Inggris dilengkapi dengan MVICS (Motor and Vehicle Integrated Control System) didalam terdapat while throttle, multiple engine maps dan 8 pengaturan traction control. Berat kering 163 Kg lebih ringan daripada Triumph Street R yang Berbobot 189 Kg.

Honda Motocompo: Skuter Kocak Incaran Kolektor

Mari sejenak kita bernostalgia ke Jepang. Pada era 1980 Honda membuat sebuah mini-hatchback City yang bertujuan mencuri pasar di perkotaan. Tidak seperti di Indonesia, saat itu City juga populer di Eropa. Mobil ini begitu dinikmati konsumennya lantaran dimensinya kompak, sementara efektifitasnya tinggi.

Namun dalam tulisan ini dapurpacu.com tak ingin membahas lebih jauh tentang Honda City atau Honda Today. Kami justru tertarik dengan skuter (scooter) Honda Motocompo yang lahir atas dorongan kedua model mobil imut itu.

Konon Motocompo merupakan paket yang dibuat Honda untuk mendampingi City. Skuter incaran kolektor motor klasik itu bahkan tersaji dalam video iklan Honda City yang tayang di era 80-an.

Honda menjual skuter yang disapa Trunk Bike ini sejak November 1981 hingga 1983. Honda mengklaim telah menjual Motocompo sebanyak 53.369 unit sepanjang kiprahnya.

Kata Honda, Motocompo dibuat agar bisa diangkut di bagasi City. Jelas saja begitu. Pasalnya, Motocompo hanya berdimensi tinggi 910 mm, lebar 535 mm dan panjang 1.185 mm.

Motocompo hanya berbobot 42 kg. Mesin AB12E 2-tak berkapasitas 49 cc cuma menghasilkan tenaga 2,5 hp pada putaran 5.000 rpm dan torsi 0,38 kg-m pada 4.500 rpm.

Dengan transmisi otomatis 1-speed, Motocompo hanya membutuhkan konsumsi bensin 70 km/liter pada kecepatan rata-rata 30 km/jam.

Motocompo sendiri berdesain unik. Bentuknya secara keseluruhan seperti sebuah bok perkakas perbengkelan. Dengan setang dan jok yang dapat dilipat, aksi Motocompo menciptakan impresi baru sebuah skuter di masanya.

Saking kocaknya Motocompo, para pemiliknya di Jepang pun perlu berapresiasi dengan mendirikan klub buatnya. Mereka bahkan memberi julukan-julukan unik berkait skuter itu dengan jargon-jargon, seperti ’Motocompo in car’, ‘My other car is…’, hingga ‘Baby on board’. So, Adakah di antara Anda yang sudah memiliki Motocompo?

Sepeda Motor Berusia 117 Tahun Akan Dilelang...Apakah Anda Berminat???


Roper Steam Motorcycle yang diracik pada 1894 akan dilelang pada acara Auction American Hope di Las Vegas Premier Motorcycle pada 12-14 Januari 2012.

Sepeda motor yang dirancang Sylvester Roper dari Roxbury, Massachusetts, ini akan ditawarkan dengan harga pembuka US$ 520 ribu atau hampir Rp 4,5 miliar. Penaksiran harga ini dilakukan Cyclone Board Track Racer OHC.

Roper ini digerakkan mesin tenaga uap dengan frame dari sepeda beremblem Columbia Bicycle. Kecepatan rata-rata sepeda motor 40 kpj.

Selain lelang juga digelar seminar tentang sepeda motor eksklusif dengan pembicara Buzz Walneck, pendiri Walneck Classic Cycle Trader, Doug Mitchell, penulis sepeda motor, Mark Hoyer, editor majalah Cycle World dan Joe Bortz, kolektor.

New Aprilia SRV850 2012

Dijuluki super scooter, aprilia mengeluarkan big matic berkode SRV850. Dilihat dari penampakannya seperti kembaran dari GileraGP800, sama-sama produsen dari Negara Itali nggak heran kalau sama. SRV850 diluncurkan bebarengan dengan SR Max 300yang juga facelift mirip Gilera Nexus.


SRV mempunyai basic mesin yang sama dengan GP800 yaitu 850cc V-Twin yang mampu menghasilkan tenaga sampai 76 bhp. Rangka model Twim Beam dan penggerak rantai, semua bodywork baru dan fairing nirip banget dengan Aprilia RSV4.

Sunday, 13 November 2011

Paketan Upgrade Suzuki Satria FU150

Susahnya punya motor yang sudah dari sananya kencang, biasanya harga parts performanya lumayan mahal. Tapi usah riweuh dulu ya, karena yang pasti kualitasnya dijamin mumpuni. Buktinya, Satria FU milik salah satu relasi kami, powernya bisa dibuat melejit hingga 9 dk. Wekkss..!!

Mau tau rahasianya? Tuh, karena disuntik paket performa dari bengkel Ultraspeed di Jl. Dr. Cipto Mangunkusumo No.42, Tangerang. Nih, triknya.



"Paling awal, terapkan langkah bore-up untuk mengatasi tenaga di putaran menengah. Sisa parts pendukungnya sudah gampang, tinggal plug n play," terang Choky, mekanik andalan Ultraspeed yang acapkali menangani Satria FU korekan.

Tenaga instan langsung terasa dengan pemakaian piston Kawasaki Eliminator berdiameter 66 mm (gbr.1), beda 4 mm dengan standar FU yang hanya 62 mm. Harga paketnya murah kok, cuma Rp 900 ribu. Itu sudah termasuk penggantian paking blok silinder dan ongkos kerja.

Choky juga mensyaratkan bore-up yang dikerjakan masih menggunakan blok mesin bawaan aslinya. Oh iya, juphe ala Ultraspeed ini bisa jadi mahal karena akan lebih maksimal bila digabungkan porting polished saluran masuk dan buang. Biayanya Rp 280 ribu.

Setelah itu baru deh nyangkut di parts pendukung lain. Misal ganti knalpot free flow. Pilihan beragam, tapi hasil setting ala Choky lebih cocok dengan merek DBS atau CMS. "Bisa naik sampai 1,5 dk dengan knalpot itu," lanjut mekanik yang selalu tersenyum ini. Memang banderolnya jadi amat mahal, hingga Rp 1,6 juta.

Next, bisa ditambah ganti karburator PE 28 (gbr.2) seharga Rp 650 ribu. Banderol segitu sudah termasuk ongkos bongkar pasang dan ganti pilot dan main jet serta kabel gas. "Ukuran spuyer pakai kombinasi 45 dengan pilot 120, dari standar PE yang 42 dan pilot 152," sambung Choky. Tujuannya, biar buka-bukaan tenaga lebih responsif lantaran mengusung jenis skep yang ditarik langsung oleh kabel gas.





Dilanjutkan main di sektor pengapian. Tapi hati-hati karena beberapa CDI biasanya suka enggak klop sama pilihan koil. "Paling sering pasang CDI Rextor limited edition dengan kombinasi koil Protec Carspeed atau Protec ground strap (gbr.3)," urai Choky lagi.

Harganya kedua part itu memang lumayan. CDI Rextor sendiri sudah Rp 1 juta dengan koil Protec carspeed seharga Rp 450 ribu, atau versi ground strap yang lebih murah, seharga Rp 250 ribu. Dijamin tenaga masih ngisi terus dari bawah sampai atas. Tinggal tambah ongkos pasang saja Rp 20 ribu.
Hasilnya, jangan kaget kalau sang FU kini bisa tembus hingga 22 dk lebih (gbr.4)!!

sumber : mymotobike.com

Spek Koil Motor Seperti Apa Yang Lebih Bagus?

Banyak pendapat soal koil. Katanya, kalo menghasilkan api gede, pembakaran akan bagus. Sementara yang lain bilang, kalo apinya biru justru lebih baik.

Menurut Freddy A. Gautama, juragan Ultraspeed di Jl. Cipto Mangunkusumo No.42, Ciledug (Jl. H. Mencong), Tangerang bahwa kemampuan bakar percikan api di busi (hasil pelipatgandaan tegangan dari CDI oleh koil) yang baik bukan ditentukan besar kecilnya atau warna percikan api.

“Tapi oleh energi panas yang dihasilkan percikan apinya. Kian tinggi energi panasnya, maka akan makin baik kemampuan membakar kabut gas di ruang bakar,” katanya. Intinya, dalam usaha meningkatkan performa mesin lewat koil, usahakan pilih yang punya kemampuan menciptakan api dengan energi panas lebih tinggi.


“Koil macam ini, umumnya terdapat pada koil motor-motor special engine (SE). Seperti punya Yamaha YZ 125 atau YZ 250, Suzuki RM dan beberapa koil aftermarket dengan spek kompetisi,” ujar Andy Soetomo, ayah Freddy yang juga salah satu ‘pemasok’ koil high performance buat mobil dan motor merek Protec.



Data Hasil Pengujian Energi Panas 

Koil Lama membakar kertas
Yamaha Mio         7,20 detik
Suzuki Smash        7,78 detik
Honda Tiger Revo 4,56 detik
Binter Mercy         7,49 detik
YZ 125                 3,73 detik
YZ 250                 3,36 detik



Data Pengukuran Dyno 
Koil                             Max Power                            Max torque
STD Smash          8,402 dk / 7.822 rpm              8,339 Nm / 6.275 rpm
YZ 250                8,439 dk / 7.906 rpm              8,305 Nm / 6.701 rpm


Wajar kalau koil-koil SE kerap diaplikasi para mekanik balap. “Koil ini (SE) apinya gak gede dan juga gak berwarna biru. Masih ada merahnya. Tapi energi panasnya tinggi,” tukas Freddy. Lantas bagaimana cara mengetahui energi panas yang dihasilkan oleh percikan api dari koil itu?

“Cara paling simpel yakni pakai kertas. Sisipkan di antara loncatan api di busi. Kalau koil itu punya loncatan api dengan energi panas tinggi, maka kertas akan cepat terbakar. Sedang secara teknis, ya langsung saja diuji peningkatan performa yang dihasilkan koil itu lewat pengukuran dyno,” jawab Freedy.

Nah, kebetulan Ultraspeed punya alat peraga uji loncatan api yang dihasilkan koil. Yuk kita coba buktikan apa benar koil-koil SE punya energi panas lebih baik dari koil standar motor. Para meter pembuktiannya, kita lihat koil mana yang mampu membakar kertas lebih cepat. Dihitung pakai stopwatch.

Oh iya, koil SE yang jadi kontestan; punya YZ 125 dan YZ 250. Sedang koil standar bawaan motor antara lain koil Suzuki Smash, Yamaha Mio (kode: 5TL), Honda Tiger Revo dan punya Binter Mercy (belakangan banyak dipakai pembesut Kawasaki Ninja 250). Hasilnya silakan lihat boks Data Hasil Pengujian Energi Panas.

Sementara untuk pembuktian lewat pengukuran dyno, koil SE yang digunakan hanya YZ 250. Sedang koil standarnya pakai punya Smash. Motor yang dijadikan bahan praktiknya Suzuki Shogun 110 yang sudah di-bore-up jadi 125 cc pakai piston Thunder 125.


“Tapi saran saya, kalau pakai koil dengan percikan api yang energi panasnya tinggi, suplai gas dari karburator sebaiknya dibikin agak basah untuk mendapatkan hasil lebih maksimal. Karena logikanya dengan kemampuan bakar yang lebih tinggi, walau suplai gasnya ditambah dikit tetap percikan api di busi masih mampu membakar gas dengan baik,” saran Freddy.

Bisa dilakukan dengan menaikkan ukuran pilotnya saja satu step, atau sekrup udara agak ditutup sedikit. “Bila tanpa setting ulang karburator, hasilnya biasanya tidak begitu signifikan peningkatan tenaganya,” tambahnya. Oke, hasilnya silakan lihat Data Hasil Pengukuran Dyno.

sumber : motorplus.otomotifnet.com

Salah Koil Bikin Jebol

Sistem pengapian di mesin motor yang ada sekarang terdiri dalam dua jenis. Yakni CDI (Capacitor Discharge Ignition) dan TCI (Transistorized Controlled Ignition).

Jenis yang disebut pertama (CDI) diaplikasi pada kebanyakan motor yang beredar di Tanah Air. Sementara tipe TCI kayak di Suzuki Thunder 125, Yamaha V-Ixion, Kawasaki Ninja 250R, Honda CBR 150R/250R dan sebagainya.

CDI merupakan sistem pengapian yang memanfaatkan kapasitor sebagai pemicu koil menghasilkan tegangan tinggi menuju busi. Dengan adanya charge dan recharge pada kapasitor yang di-switch oleh SCR menjadikan kapasitor menghantarkan tegangan sebagai penyulut koil untuk membangkitkan tegangan tinggi.

Nah, kalau TCI menggunakan komponen driver transistor atau sejenisnya untuk men-switch minus koil ke ground sesuai signal input yang masuk. Maksudnya, transistor itu sebagai switching-nya.


Pada TCI, listrik disimpan di koil, tepatnya di gulungan sekunder. Saat otak pengapian yang menyimpan kurva pengapian dapat sinyal dari pick up pulser di magnet, maka transistor akan mutus arus positif yang ngecharge koil, dan pindah ke massa (di negatif in). Maka, terjadilah induksi di koil dan busi mercik.
Kelebihan TCI, “Tegangan yang dihasilkan ke busi lebih gede dibanding jenis CDI. Output yang keluar dari modul pengapiannya bisa mencapai 300 Volt. Sementara pada sistem CDI hanya sekitar 250 Volt,” terang Tomy Huang, bos PT Trimentari Niaga selaku produsen otak pengapian merek BRT. Eefeknya, lipatan tegangan yang dihasilkan di busi lebih gede.


Namun, lanjut Tomy, kekurangan pada TCI yaitu memiliki delay ignition timing (waktu pengapian) lebih banyak dari CDI. “Bisa lebih lambat 0,5 derajat dari waktu pengapian yang dikirim oleh pulser,” terangnya. Misal waktu pengapian yang dibaca pulser 25 derajat sebelum TMA, maka saat sampai ke busi (memercik) jadi 25,5 derajat sebelum TMA.


Sedang pada CDI kata Tomy, delay yang terjadi hanya sekitar 0,2 derajat. Pernyataan Tomy meluruskan anggapan yang beredar di beberapa forum di internet yang memaparkan sebaliknya.
“Sifat koil TCI adalah induktif. Delay-nya lebih lama. Itu sudah sifat alaminya. Secara cost, sistem TCI lebih murah dan simple dibanding CDI. Tapi karena produksinya sedikit, jatuhnya jadi mahal,”


Oh iya, ada salah kaprah yang berkembang di lapangan belakangan ini. Yakni soal pengaplikasian koil. Tak jarang koil untuk motor berpengapian CDI digunakan pada motor berpengapian TCI atau sebaliknya dengan alasan untuk mendapatkan kualitas pengapian yang lebih baik.
“Koil TCI memiliki hambatan yang lebih besar dari koil jenis CDI. Memang bisa saja nyala dipasang di pengapian jenis CDI. Tapi akibatnya, api yang dihasilkan di busi akan lebih kecil dan CDI rawan jebol,” wanti Tomy.
Sebaliknya, lanjut pria berkacamata ini, koil CDI tidak boleh dipasang di motor bersistem pengapian TCI. “Karena akan merusak koil dan TCI-nya sendiri,” tambahnya.

Wah, bisa keluar kocek banyak tuh kalau sampai jebol! So, jangan sampai salah ya.

sumber : mymotobike.com

Busa dan Pelapis Rusak, Bikin Jok Terus Basah

Musim hujan sudah datang. Selain mempersiapkan diri dengan jas hujan, ada hal lain yang mesti diperhatikan. Jangan sampai hanya memperhatikan badan tapi kondisi motor malah dicuekin. Kalau sampai terjadi, wah artinya nggak sayang motor nih.

Karena sering dipakai harian, kadang kita tidak memperhatikan kondisi motor. Ketika musim hujan tiba, hal yang sering kita abaikan tadi malah bisa merugikan diri sendiri. Misalnya saja ketika tidak pernah mencermati kondisi pelapis alas pantat atau jok.

Akibat pemakaian, pelapis jok bisa sobek. Atau jika belum sampai sobek akan retak-retak. Jika motor diterpa hujan, akan timbul masalah. “Sudah pasti air akan masuk ke dalam busa jok dan akan tersimpan lama di dalam busa.

Jika air sudah nyelonong masuk ke dalam busa jok, dipastikan akan mengendap dan bertahan di dalam busa jok. “Akibatnya jok akan selalu basah meskipun sudah tidak ada lagi hujan.

Kalau kejadiannya sudah begitu, siap-siap saja celana akan selalu basah ketika duduk di atas jok. Selain mengganggu kenyamanan, air tadi juga akan merusak kualitas busa jok. “Sehingga akan cepat rusak dan kadang juga bisa membuat bau busuk dan sangat tidak nyaman.

Saturday, 12 November 2011

Aki Kering atau Basah, Pilih Yang Mana?

Untuk keperluan balap banyak yang memilih aki basah. Katanya lebih pasti alias tidak menipu. Soalnya aki kering kerap bermasalah. Ketika asyik balap tiba-tiba mati mendadak. Begitu dicek tahunya setrum abis, padahal baru saja dicharge atau disetrum ulang.

Namun harus diluruskan dulu pemahaman aki kering dan aki basah. Aki kering atau MF (maintenance free) dimaksud biasanya aki dari pabriknya sudah terisi cairan berupa gel. Padahal aki ini juga sebenarnya basah juga. Kan di dalamnya ada cairan. Tapi, disebutnya aki kering.

Sedangkan aki basah, aki yang airnya dituang sendiri sehabis beli. Bisa aki basah yang transparan atau aki basah yang cairannya tidak terlihat. Pokoknya cairan aki dituang sendiri.


Seperti yang dituturkan Ibnu Sambodo, mekanik Kawasaki Manual Tech. Kini dia menggunakan aki basah yang cairannya tertutup atau tidak bisa dilihat dari luar. Aki basah model ini juga disebut MF dan oleh orang Indonesia disebut aki kering he..he..he...

Bedanya aki basah MF ini, sehabis mengisi cairan langsung ditutup rapat. Anjurannya tidak bisa lagi diisi ulang, kecuali dipaksa. He..he..he.. apapun bisa kali ya kalau dipaksa.

MAsih menurut Ibnu yang beken dipanggl Pak De, aki MF yang dilengkapi cairan ketika kita membelinya, bisa dipercaya untuk balap. Dia sudah menggunakan sejak lama begitu model ini keluar.

Meski dilengkapi cairan, tapi bisa bertahan lama. Karena cairannya tidak muncrat dan membuat karat di sasis. “Paling hanya menguap karena dilengkapi katup. Tidak bahaya dipakai balap,” jelas pria beken disebut begawan 4-tak ini.

Paling penting lagi, gunakan aki yang buatan Jepang. Seperti produksi Yuasa atau GS. Aki MF yang dilengkapi cairan ketika membeli biasanya buatan Yuasa. Kata para penjualnya supaya lebih fresh. Kayak daging atau buah-buahan aja ya.

Model begini memang bebas dari risiko umur pakai. Pemakaian atau umur aki dihitung sejak dituangkannya cairan. Sehingga dapat dipastikan bebas dari risiko penyimpanan yang lama ketika di toko atau bengkel.

Selain aki yang MF, di balap masih banyak yang mengandalkan aki basah biasa. Model aki begini kemasannya transparan, sehingga isi air aki bisa dilihat dari luar. Accu model begini disebut sebagai aki konvensional.

Dianggap lebih pasti dan lebih bandel karena memang aki jadul. Namun risiko air aki muncra ketika motor terjatuh bisa terjadi. Berisiko cairan muncrat ke mana-mana dan bikin karat sasis.

sumber : motorplus-online.com

Lacak Oli Mesin Bocor

Penentu performa mesin 4-tak salah satunya adalah pelumas. Jika volume di bak mesin kurang, biasanya akan berpengaruh terhadap tenaga. Suhu mesin makin panas akibat komponen cepat muai, kebocoran kompresi berujung pada mesin macet. Agar itu tidak terjadi, segera lacak ke mana perginya oli tadi.

Pelumas berkurang sudah pasti karena bocor atau rembes. Tapi, mungkin ada yang tidak meninggalkan bekas. Sehinga sulit saat dideteksi. Misal oli habis lantaran ikut terbakar. Ini akibat sil klep rusak atau silinder sudah minta dioversize.


Secara kasat mata memang tidak ada tumpahan oli di bawah mesin. Namun akan terlihat dari asap tipis warna putih yang keluar dari knalpot.

Oli bocor paling sering dialami di sebelah kiri mesin. Bagian ini kerap menerima tekanan tinggi. Deteksi mudahnya dari sil persneling atau karet pelindung kabel sepul. Jika sudah robek atau keras, oli bukan cuma merembes tapi juga berserakan di lantai.

Oli bertekanan juga rembes lewat baut penutup lubang tanda timing atau dari tutup magnet. Apalagi jika sering bongkar-pasang, sehingga ulir gampang dan cepat terkikis. Tapi, jangan bingung, oli tidak rembes jika ulir dilapis isolasi plastik buat pipa paralon.

Paling repot jika tekanan oli menyerang celah blok silinder bawah. Atau meluncur dari celah antara blok tengah alias crankcase.

sumber : motorplus-online.com

Teliti Spuyer, Beda Merek Beda Ukuran

Ganti spuyer banyak dilakukan untuk mendongkrak power mesin. Atau menyesuaikan permintaan gas bakar yang diperlukan oleh dapur pacu. Itu biasa dilakukan pada motor standar atau korekan.

Namun yang perlu waspada, harus perhatikan dan dicermati. “Masing-masing merek terkadang berbeda ukuran.


Misalkan aslinya spuyer Keihin PE 28. Pilot-jet punya ukuran 42. Kalau pakai spuyer variasi atau aftermarket bisa lebih besar lubangnya meski sama-sama punya ukuran 42.

Yang perlu hati-hati lagi, kadang spuyer aftermarket enggak tentu ukurannya. Misalnya punya ukuran 60, bisa jadi lebih kecil dari standar yang 60 juga.

Untuk itu Kalau mau beli spuyer, bawa yang aslinya. “Tentunya untuk dibandingkan dengan spuyer yang dipakai sebelumnya.

Spuyer variasi yang mendekati aslinya. Seperti buatan Kitaco, TDR atau Kawahara. Ukurannya hampir sama dengan standar. Bahkan produsennya berani bilang, kalau memang sama dengan standar. Namun tetap harus dicek supaya teliti.

Walaupun ketiga merek ini mendekati aslinya, sebaiknya jangan saling oplos atau saling tukar. Buat patokan sebaiknya cukup menggunakan satu merek, supaya nyetingnya enak. Kalau gonta-ganti merek, bisa saja beda sekian mikron.

sumber : motorplus-online.com

Amankan Kepala Busi Dari Hujan, Ikat Dengan Kabel Tie

Tak hanya percikan air saja yang membasahi bodi ketika musim hujan tiba. Tapi, kecenderungan sobat buat melewati genangan air, itu bisa terjadi. Terutama, buat sobat yang nyemplak motor tipe bebek. Pastinya ketika melewati genangan air, busi juga kerap diterjang air.

Sedang di pacuan skubek, terlindungi cover bodi. Begitu juga pacuan sport yang letak businya cenderung berada di posisi mesin atas. Tapi, usah khawatir buat penyemplak bebek. Sobat, bisa gunakan cable tie atau kabel tie untuk mencegah air masuk ke bagian dalam kepala busi. Sebab, jika air masuk, pastinya arus listrik tidak mampu menghantar sempurna.


“Motor bisa brebet bahkan bisa mati juga,” ujar Kardi dari Kardi Mulia Motor di Jl. WR Supratman, Kp. Utan, Ciputat, Tangerang.

Kabel ini sobat posisikan di kepala busi dengan erat. Setidaknya, meski air sempat masuk, tapi tidak banyak tuh. Oh ya, cara ini juga banyak dipakai oleh mekanik balap demi menjaga kekencangan kepala busi agar tidak mudah lepas lho!

Toh, modalnya juga enggak mahal lho. Kabel tie dijual sekitar Rp 500 untuk satu piece.

sumber : motorplus-online.com